Robotika Semakin Diminati (1)

Sebuah artikel menarik dari CHIP Online

http://chip.co.id/articles/mag/tag/komunitas-robot/

Robot semakin dekat dengan kehidupan manusia. Di luar negeri, robot bahkan sudah menjadi asisten dan teman hidup manusia. Di Indonesia, robot pun kian diminati. Semakin banyak orang yang tertarik mempelajari bidang robotika.

Tahun 2035, robot humanoid bukan barang aneh. Robot jadi teman hidup dan partner kerja manusia. Di saat itu, ada 3 hukum yang diprogram dan harus dipatuhi oleh setiap robot. Robot tak boleh menyakiti manusia atau membolehkan manusia menyakitinya. Robot harus mematuhi perintah manusia, asal tak bertentangan dengan aturan pertama. Robot harus melindungi dirinya, selama tidak menentang hukum pertama dan kedua. Itu adalah setting film I Robot (2004) besutan Studio Hollywood. Film itu bisa menjadi contoh bayangan manusia akan robot masa depan. Dalam film itu, ditampilkan karakter robot unik bernama Sonny yang memiliki emosi seperti manusia.


Robot seperti Sonny mungkin kelak bukan khayalan belaka. Saat ini, robot humanoid sudah banyak dikembangkan. Jepang adalah pionir di bidang ini. Selain robot Asimo buatan Honda, Jepang juga memperkenalkan robot Wakamaru yang jago berakting di teater.

Sonny, Asimo, dan Wakamaru adalah contoh robot-robot humanoid berbentuk “manis”. Pada kenyataannya, banyak robot berpenampilan kaku. Mereka diciptakan untuk menjalankan tugas-tugas berat dan berisiko tinggi yang mus­tahil dilakukan oleh manusia. Misalnya, untuk menjelajah Mars atau mengangkat objek-objek berat. Kebanyakan robot diterapkan dalam bidang manufaktur, transportasi, dan militer.

Di Indonesia, pemanfaatan robot juga masih terbatas di bidang industri. Di luar itu, pemanfaatannya masih sebatas hobi dan kegiatan ekstrakurikuler. Kendati demikian, semakin banyak orang yang tertarik mempelajari bidang robotika. Beberapa universitas pun sudah melakukan penelitian di bidang aplikasi robotika.

Pendidikan robotika
Salah satu universitas yang berprestasi dalam bidang robotika adalah ­Institut ­Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Saat ini, disponsori oleh Japan International Cooperation Agency (JICA), ITS tengah me­ngembangkan robot untuk pencarian korban gempa dan tsunami.

“Dengan robot ini kami mempersiap­kan agar mampu mencari korban gempa yang sekarang sering terjadi di Indonesia,” kata Son Kuswadi, Kepala Intelligent Control & Robotics Lab, ITS. Selain itu, ITS juga mengembangkan robot seni. “Robot ini untuk mempertahankan dan mengembangkan seni tradisional dalam kemasan modern,” kata Son.

Selain ITS, masih ada beberapa universitas yang manaruh minat terhadap robotika. Contohnya, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Intitut Teknologi Bandung. Beberapa sekolah pun mulai memasukkan program pelatihan robotika da­lam kegiatan eks­trakurikuler mereka, seperti Sekolah BPK Penabur, Sekolah Ricci, SMP dan SMU Petra di Surabaya, serta Sekolah Trimulia di Bandung.

Lembaga kursus dan pendidikan robotika juga mulai bermunculan di dalam negeri. Salah satunya adalah Next System Robotics Learning Center. Lemba­ga pelatihan robotika yang berbasis di Bandung ini mulai berdiri pada tahun 2007 sebagai bagian dari Next System, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi.

Dalam kompetisi robot di ajang Indonesia ICT Award (INAICTA) 2009, 28-29 Juli lalu, ada empat tim binaan Next System yang keluar menjadi juara dalam kategori Maze Solving Robot. Di tingkat SMA/SMK, Tim Chibibot keluar menjadi Juara 1 dan Tim Vini Vidi Vici sebagai Juara 2.  Sementara di tingkat SMP, Tim Undefeated Lightning Bolt dan Tim Night Stalker masing-masing menjadi Juara 2 dan Juara 3. Prestasi tim binaan Next System juga dibuktikan dalam South East Asia Robo­tic Olympiad (SEARO) 2009 yang digelar di Solo, Jawa Tengah, 25-28 Juni lalu. Dalam kompetisi itu. mereka meraih medali perak.

Menurut Christianto Tjahyadi, managing director dan kepala tim riset Next Sy­s­tem, semakin banyak kalangan masyarakat yang tertarik dengan robotika. Itulah yang melatarbelakangi pendirian Next System Robotics Learning Center. “Kami melihat peningkatan animo masyarakat dari berbagai kalangan terhadap robotika. Next Sys­tem sekaligus menjadi upaya kami untuk menyebarkan pengetahuan robotika secara lebih luas,” paparnya.

Sebenarnya, banyak mata pelajaran  di sekolah yang menjadi dasar ilmu dan teori robotika. Misalnya Matematika dan Fisika. Sayangnya, para guru di sekolah masih mengalami kendala dalam memberikan pengetahuan dasar robotika itu kepada para siswanya.  “(Karena itu) lembaga ini didirikan sebagai wujud dari kepedulian kami terhadap dunia pendidikan. Kami ingin membantu sekolah dalam ‘membumikan’ atau mengaplikasikan teori-teori yang didapatkan oleh para siswa dari guru mereka di sekolah.”

Lembaga pendidikan ini menyasar target anak remaja dan dewasa. Dengan mempelajari dan menerapkan pelajaran di sekolahnya ke dalam robotika, para siswa juga bisa lebih memahami esensi pelajaran-pelajaran yang mereka dapat di sekolah. Selain dibekali pengetahuan tek­nis, peserta pelatihan di Next System juga diberikan program motivasi.
“Jadi pelajarannya tidak hanya menyentuh aspek kognitif, namun juga aspek afektif dan psikomotor,” kata Christianto. Menurut pembina Tim Robotika SMP dan SMA Trimulia, Bandung, ini, cukup banyak siswa yang di sekolahnya dinilai kurang pandai justru bisa menjadi juara dalam kompetisi robotika.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: