Robotika Semakin Diminati (3)

Tantangan industri
Peminat robotika di kalangan pelajar memang mulai meningkat. Sayangnya, masih ada kendala yang dihadapi oleh industri ini. Peralatan dan komponen robot masih sulit untuk didapatkan di dalam negeri. Kalaupun ada, harganya relatif mahal. “Untuk perangkat yang spesifik, seperti chip tipe tertentu, agak sulit didapatkan di Indonesia. Dalam beberapa kasus, harus impor dan biayanya cukup besar karena beberapa komponen masih dianggap barang mewah,” kata Christianto.

Kendala biaya juga diakui oleh Son Kuswadi. Selain harga komponen yang mahal, Son juga melihat kemampuan perguruan tinggi dalam negeri di bidang robotika belum merata. “Ada yang sudah maju dan berkali-kali jadi juara kontes robot, banyak juga belum mampu mengen­dalikan gerakan motor,” katanya. Namun, menurutnya pengadaan kontes-kontes robot dapat meminimalkan masalah itu.

Robot Edukasi: Teman Belajar Anak
Pasar perangkat robotika diisi oleh produk-produk impor yang harganya tak murah. Robot edukasi diciptakan agar anak-anak berbujet terbatas juga bisa belajar merakit robot.

Brand “Robot Edukasi” dikembangkan oleh Next System. Sejak robotika menjadi tren di kalangan anak-anak dan sekolah, kebutuhan akan perangkat robot  meningkat. Sayangnya, pasar perangkat robotika diisi oleh produk-produk impor berharga mahal. Robot ini lalu dikembangkan agar anak-anak dan sekolah berbujet yang terbatas juga bisa mencicipi asyiknya merakit robot.

“Sesuai namanya, robot ini memang ditujukan untuk pembelajaran robotika,” kata Christianto. Robot ini mulai diperkenalkan pada awal 2008 dan memiliki beberapa varian. Tiap varian dijual dalam satu set—ada yang sudah terakit, ada yang masih terurai ­kom­po­­nennya. Saat ini, robot ini telah didistribusikan di Aceh hingga Makassar. Harganya Rp1.600.000-Rp3.000.000 per set.

Paket Robot Edukasi sudah disertai dengan program yang dapat di-install sendiri oleh penggunanya. Pemrogramannya menggunakan bahasa familiar, seperti BASIC, C, dan Pascal; serta mendukung sistem Windows, Linux, dan Macintosh.

Robot Edukasi tampil dalam rupa mobile robot (robot beroda). Menurut Christianto, mobile robot adalah yang paling mudah dibangun dan dipelajari. Selain itu, banyak aplikasi robot bisa dikembangkan dari mobile robot. Contohnya line following robot (penjejak garis), light seeking robot (pencari sumber cahaya), obstacle avoidance (yang bisa menghindari penghalang), remote controlled robot (yang dikendalikan de­ngan remote), dan sound activated robot (yang pergerakannya diatur sensor suara).

Menurut Christanto, Robot Edukasi juga dapat dikembangkan menggunakan berbagai komponen yang bisa diperoleh di pasar lokal, seperti di Glodok (Jakarta),  Jaya Plasa (Bandung), atau Genteng (Surabaya).

Tantangan lainnya, Christianto menambahkan, masih banyak orang yang tertarik dengan robotika sebatas teori dan simulasinya. “Padahal yang dibutuhkan dalam dunia industri adalah aplikasi nyata,” tuturnya. Dalam hal robotika, Indonesia bisa dibilang masih tertinggal, termasuk dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. “Mereka sudah memiliki industri yang menunjang pembelajaran robotika,” tutur Christianto. “Thailand bahkan sudah mampu mem­produksi robot untuk pembelajaran robotik secara luas. Bahkan tidak sedikit sekolah di Indonesia yang menggunakan produk robot bekas Thailand.”

Menurut Christianto, penggunaan robot dalam industri di Tanah Air juga belum bisa dikatakan luas. Pasalnya, inves­tasi yang diperlukan untuk menerapkan robot dalam industri juga tidak murah. Selain itu, diperlukan pula sumber daya manusia yang benar-benar menguasai bidang robotika.

Robot banyak digunakan dalam industri untuk melakukan tugas-tugas yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Di sini, robot banyak digunakan dalam industri otomotif, pengolahan kayu, dan elektronik.

Bagaimana peluang kerja bagi para lulusan sekolah robotika? Son berpendapat, para lulusan itu memiliki punya kesempatan kerja yang sangat besar, “Karena pada hakekatnya, kemampuan membuat robot bisa diaplikasikan pada banyak hal. Sebagai contoh, kemampuannya bisa dipakai untuk membuat palang pintu parkir otomatis, mesin pembuat kopi, dan vending machine. Mereka juga bisa berkarya di bidang computer network dan system engineers.” Menurutnya, seseorang yang mampu membuat robot sudah memiliki pola pikir yang logis serta ke­mampuan untuk bekerja keras dan bekerja sama. Itu adalah modal yang diperlukan tiap orang untuk sukses dalam bekerja. “Saya harap ‘demam’ robotika di Tanah Air terus dibangkitkan, demi tersedianya SDM tangguh dalam membangun bangsa,” katanya.

Christianto berpendapat sama, “Pada saat negeri ini memasuki era industri mandiri—yang dijalankan secara otomatis untuk tujuan produktivitas dan efisiensi—maka SDM yang memahami dan menguasai robotika akan sangat dicari.”
Mereka optimistis, di masa depan penggunaan robot dalam dunia industri akan semakin meningkat. Karena itu, SDM pun dituntut untuk memiliki kualitas yang lebih unggul.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: