Juara Robot Indonesia 2011 (KRCI)

Tim UGM Luiz Rizki Ramelan (kiri), Farid Inawan (tengah), dan Noer Azis Ismail sebelum berangkat ke Amerika Serikat.

JAKARTA – Prestasi membanggakan diraih tiga kampus yaitu Universitas Gadjah Mada, InstitutTeknologi Bandung,dan Universitas Komputer Indonesia (Unikom) pada ajang TrinityCollegeFire- FightingRobot Contest di Hartford City, Connecticut, Amerika Serikat (AS). Kemenangan ini membuktikan, Indonesia sebagai negara berkembang berhasil mengaplikasikan teknologi robot di jenjang perguruan tinggi.

Sepulangnya di Tanah Air nanti, penyambutan langsung dipimpin oleh Mendiknas Muhammad Nuh.Mereka yang menang akan diberikan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Pada kontes yang berlangsung 9–10 April lalu, robot ciptaan mahasiswa Fakultas Teknik UGM, Luiz Rizki Ramelan, Farid Inawan, dan Noer Azis Ismail menang dalam kompetisi adu cepat mencari dan memadamkan lilin kategori robot beroda.

Robot bernama Koplak dan Iron Fire ciptaan mahasiswa UGM berhasil meraih juara pertama dan kedua,menyisihkan pesaing dari 41 tim internasional lain.Kemenangan tim UGM juga diikuti tim dari ITB dan Unikom Bandung dalam kategori lomba berbeda pada kompetisi robot internasional yang digelar ke-18 kalinya tersebut. Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendiknas Suryo Hapsoro Tri Utomo mengatakan, tim robotika ini memang telah melalui masa seleksi di tingkat perguruan tinggi,regional,dan nasional.

Sejak awal Kemendiknas sudah optimistis bahwa mereka akan menang di kancah internasional. ”Kemenangan tim robotika ini sangat membanggakan. Mereka mengharumkan nama bangsa di dunia internasional,” kata Suryo Hapsoro. Setibanya di TanahAir nanti, UGM tidak berencana memberikan penyambutan khusus. Namun,mereka akan memberikan hadiah berupa beasiswa bagi ketiga mahasiswa. Beasiswa pendidikan tersebut akan diberikan untuk melanjutkan studi hingga jenjang S-2.

”Jika prestasi yang ditorehkan semakin bagus, beasiswa untuk jenjang S-3 bukan tidak mungkin juga akan diberikan,” tambah Kepala Humas dan Protokol UGM Suryo Baskoro. Suryo menjelaskan,Koplak dan Iron Fire yang memberikan kemenangan di AS merupakan robot yang memanfaatkan sensor panas untuk melakukan kegiatannya. Secara fisik robot tersebut berbentuk kotak dengan memiliki empat roda. Secara sekilas bentuk robot tersebut mirip dengan mobil mainan anak-anak.

Meski demikian, empat roda tersebut merupakan hasil rekonstruksi terbaru. Sebelumnya saat kompetisi tingkat nasional di Universitas Muhammadiyah Malang 2010, Koplak dan Iron Fire hanya memiliki dua roda. Penambahan roda menjadi empat untuk menstabilkan kemampuan gerak robot. Dalam kompetisi di AS, kedua robot diharuskan mencari lilin dan memadamkannya dengan memanfaatkan sensor panas yang dimiliki.

Sensor panas diletakkan secara berpasangan mirip mata di bagian tengah badan robot. Sensor tersebutlah yang akan memandu robot untuk bergerak mencari lilin dengan mendeteksi adanya panas dari lilin yang menyala. Sementara untuk memadamkan lilin, tim Iron Fire meletakkan sebuah pipa besi yang dihubungkan dengan selang plastik di bagian atas badan robot. Dalam kompetisi tersebut, penilaian dilakukan berdasarkan kecepatan dan ketepatan dalam melakukan pemadaman api lilin.

”Melalui sensor, robot Iron Fire yang kami rancang mampu mencari dan memadamkan api dalam waktu kurang lebih sepuluh detik,” tutur anggota tim Iron Fire Luiz Rizki Ramelan sebelum berangkat untuk berkompetisi. Koplak dan Iron Fire bersaing dengan 41 peserta lain di sebuah labirin. Setiap robot diharuskan untuk mencari lilin dengan menelusuri tempat yang memiliki banyak jalan dan lorong untuk memadamkan apinya.

Meski demikian, upaya mencari lilin tersebut tidak dapat dilakukan dengan mudah. Selain kerumitan dari lorong dan jalan yang harus dilalui, peserta juga tidak mengetahui dari manakah robotnya mulai berjalan. Setiap robot juga dihadapkan pada berbagai rintangan berbentuk polisi tidur serta tabung penghalang jenis silinder besi.

”Keduanya berhasil menjadi yang terbaik dari 41 peserta yang ikut kompetisi,” tutur Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama,dan Penelitian Fakultas Teknik UGM,Prof Ir Jamasri PhD yang mendampingi mahasiswanya di Amerika Serikat melalui pesan singkat kepada SINDO.

Persiapan 1 Tahun

Sementara itu,tim robotika dari Unikom Bandung berhasil menjadi juara pertama di kelas advance serta juara pertama dan kedua di kelas standarddalam kategori robowaiter. Pada kategori robowaiter atau robot pelayan, dilombakan kemampuan untuk bisa membantu orang cacat,membawakan sepiring makanan tanpa jatuh, dan tanpa menabrak orang yang dibantu. Untuk mendapatkan hasil memuaskan, persiapan menjadi hal yang sangat penting.

Seperti dilakukan tim robotika Unikom 2011 yang mengikuti kontes robot internasional di Amerika Serikat, mereka melakukan persiapan selama satu tahun. ”Pembuatan robot memang butuh waktu cukup lama,mulai dari riset sampai implementasi. Untuk pertandingan sekarang pun menghabiskan waktu sekitar satu tahun,”ujar Ken Kinanti, salah satu anggota tim robotika Unikom 2011 di Laboratorium Divisi Robotika Unikom,Jalan Dipatiukur, Kota Bandung kemarin. ?neneng zubaidah/ maha deva/masita ulfah

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/392737/38/




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: