Betah di Rumah Robot


Jurnal Nasional | Minggu, 20 Nov 2011
Menurut Jully Tjindrawan, ilmu robotik mengajak generasi muda untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu, seperti mekanika, koordinasi, psikologi, dan komunikasi.

MEMASUKI Robotic Explorer World atau rumah robot yang terletak di Thamrin City seakan memasuki dunia luar angkasa. Pintu penghubung antara ruangan dibuat seperti di film StarTrek. Gaya yang sama digunakan pada lorong-lorong menuju ruangan, benar-benar seperti di ruang angkasa.

Di sinilah Jully Tjindrawan berkantor. Ia adalah Direktur Robotic Explorer. Bagaimana ia bisa terjun ke dunia robotika, padahal ia tidak tahu-menahu seluk beluk robot? Semua berawal pada 2005. Saat itu, Jully yang tengah mengembangkan usaha kursus bahasa Inggris bernama Ultimate Explorer merasa gelisah. Dia merasa perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia minim. Lalu muncul keinginan dalam diri Jully agar anak-anak juga bisa berkenalan dengan dunia tersebut, terutama yang bersifat eksperimen praktis.

Lalu di awal 2005, dia mengorder sejumlah item barang dari Jerman yang dikira model konstruksi biasa untuk dirakit. ”Ternyata, saya salah pesan. Yang datang satu kontainer barang-barang robotika,” ujarnya.

Bentuknya sepintas mirip lego. Tapi, lebih rumit dengan jaringan elektronik di dalamnya, lengkap dengan keping-keping VCD sebagai program. Ternyata, itu adalah instrumen kerangka robot yang paling mendasar.

Merasa buta dengan dunia robotika, Jully sempat enggan untuk meneruskan. Latar belakang pendidikan Jully memang sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia robotika. Apa lagi bidang pendidikan yang digelutinya tidak ada hubungannya dengan robotika.

Karena peminat robot di Indonesia banyak dan belum ada wadah yang meanaunginya, dan mendapat semangat dari beberapa teman, akhirnya ia tetap menjalankannya.”Dari situ, saya mulai mempelajari apa robot itu. Ternyata sudah mendunia,” tutur wanita yang meraih gelar S-1 Finance dari Fresno State, AS, dan S-2 Finance Marketing dari National University, San Diego, AS.

“Saya berani memulai bisnis robot dari segmen anak-anak. Karena, perangkat model konstruksi yang tanpa sengaja diborong memang merupakan media pengenalan awal mengenai robot kepada anak-anak. Melalui model konstruksi tersebut, anak-anak belajar berimajinasi untuk membangun sosok robot impiannya,” ujar perempuan yang mengawali bisnis ini di kawasan Jakarta Utara ini.

“Rumah robot di Thamrin City ini dibangun dalam waktu 37 hari tahun lalu. Sedangkan konsep rumah robot ini sudah dibuat dari dua tahun lalu. Bagi saya, ini merupakan field trip. Karenafield trip anak di sini juga masih sedikit, seperti Mekar Sari atau Taman Mini. Saya juga berharap yang ke sini member bukan visitor, karena untuk menciptakan sesuatu di sini harus bolak-balik datang,” katanya saat ditemui pada acara workshop menjelang RoboCup CoSpace Indonesia Open 2012.

“Di rumah robot ini, pengunjung berusia tiga tahun hingga dewasa bisa datang dan bereksplorasi, melihat robot-robot yang ada hingga memulai untuk mengembangkannya. Ini saat yang tepat untuk mulai membangun,” kata sosok berusia 40 tahun ini.

“Rumah robotik bisa mengajak generasi muda untuk berpikir sistemik. Ilmu robotik mengajak generasi muda untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu, seperti mekanika, koordinasi, psikologi, dan komunikasi,” kata ibu dari tiga anak ini yang berharap robotika bisa menjadi salah satu ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.

 

Sumber : 

http://nasional.jurnas.com/halaman/14/2011-11-20/189678


  1. thanks this has really helped, as has many of your other articles.http://www.cartuchoshp.net




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: